Air Mata Bunga
Kekasih, bunga yang telah layu kemarin mungkin bisa engkau sembuhkan agar ia kembali mekar di pagi hari nanti. Akan tetapi, apabila bunga tersebut telah menanggalkan tangkainya, engkau tak akan pernah bisa lagi menyulamnya. Bahkan, jika itu dengan air matamu.
Bunga yang telah terjatuh hari ini tak akan pernah tumbuh lagi jika tidak disirami. Engkau yang hanya pasrah dan berpangku tangan terhadap kehidupanmu akan bernasib sama. Tuhan tidak pernah menghukummu, tetapi engkaulah yang memilih hidup dalam hukuman tersebut.
Jika tukang kebun kemarin pergi, engkau harus menemukan tukang yang baru untuk terus menyirami bunga kehidupanmu agar mahkotanya tumbuh kembali. Engkau tak dapat lari dari satu kenangan apabila engkau tidak menemukan pensil untuk mengukir kenangan kembali di atasnya.
Kekasih, bunga yang telah layu kemarin mungkin bisa engkau sembuhkan agar ia kembali mekar di pagi hari nanti. Akan tetapi, apabila bunga tersebut telah menanggalkan tangkainya, engkau tak akan pernah bisa lagi menyulamnya. Bahkan, jika itu dengan air matamu.
Bunga yang telah terjatuh hari ini tak akan pernah tumbuh lagi jika tidak disirami. Engkau yang hanya pasrah dan berpangku tangan terhadap kehidupanmu akan bernasib sama. Tuhan tidak pernah menghukummu, tetapi engkaulah yang memilih hidup dalam hukuman tersebut.
Jika tukang kebun kemarin pergi, engkau harus menemukan tukang yang baru untuk terus menyirami bunga kehidupanmu agar mahkotanya tumbuh kembali. Engkau tak dapat lari dari satu kenangan apabila engkau tidak menemukan pensil untuk mengukir kenangan kembali di atasnya.
Gabung dalam percakapan