Premaloka
Kekasih, dalam kehidupan ini, bumi yang kita kenal setidaknya hanya memiliki dua sinar: satu dari matahari dan satunya lagi dari rembulan. Meskipun begitu, konon sinar rembulan sebenarnya merupakan pantulan dari matahari.
Kekasih, bukankah itu sama halnya dengan kehidupan ini? Tidak mungkin terjadi dua matahari yang sama. Jika memang begitu, bagaimana siklus-siklus yang telah tertata selama ini? Siang dan malam, pasang dan surut, dan seterusnya?
Kekasih, inilah gambarannya. Dalam bidang apa pun, seseorang harus rela mengalah untuk tetap menjaga penyeimbang dan keselarasan kehidupan. Bukankah mengalah tidak berarti kalah?
Kekasih, panas yang akhir-akhir ini menerpa berbagai wilayah di negara kita pun sering dijadikan lelucon bahwa mataharinya ada sepuluh, misalnya. Terkadang, ada orang mengatakan bahwa seseorang memiliki satu matahari di atasnya. Inilah fakta bahwa dua matahari tidak menjadikan bumi semakin membaik, justru akan membakarnya dalam fata morgana keindahan.
Kekasih, setiap keindahan itu tidak didapat hanya dengan engkau berpangku tangan. Semesta mempunyai hukum sebab-akibat yang akan terus berputar dari waktu ke waktu. Pada titik inilah engkau harus menyadari penuh kenyataan tersebut. Engkau tidak akan dapat melihat bunga cintamu mekar, sementara ia tidak pernah engkau siram dengan kerendahan hatimu.
Kekasih, sering aku katakan bahwa kata-kata itu terbatas. Itulah alasan ada orang yang bernyanyi, menari, dan sebagainya. Bukankah Tuhan juga demikian? Melukis wajahmu pada atap bumi? Ringankanlah laku kehidupanmu sebagaimana engkau ringan dalam berkata-kata.
Gabung dalam percakapan