Hujan Kenangan
Kekasih, begitulah kehidupan adanya. Ia tak hanya untuk menghidupi satu corak saja atau satu kelompok saja. Kehidupan menghidupi tiap-tiap hal yang ada di dalamnya. Ia yang gelap hingga ia yang dapat meneduhkan pandanganmu dan dapat meluluhkan hatimu.
Akan tetapi, Kekasih, ketahuilah bahwa setiap hal dalam kehidupan tersebut akan pergi, dengan terpaksa atau tidak. Engkau juga harus menyadari bahwa dalam kehidupan ini, apa pun tidak ada yang kekal, termasuk kebahagiaan ataupun kesedihan.
Kekasih, jangan terus larut dalam sedih maupun dukamu. Teruslah hidup dan menjalani kehidupanmu, meneruskan setiap perjuangan yang telah engkau lakukan bertahun-tahun lamanya. Siapa pun yang pergi, faktanya, kehidupan ini akan terus berputar dan berjalan. Untuk apa engkau menangisi apa yang telah pergi? Usaplah air matamu, seka dukamu, dan bangkitlah; berjalanlah kembali.
Apabila memang harus, hiduplah dengan kenangannya yang telah tergores dalam canvas hidupmu, pandangilah ia ketika temaram senja menyapa. Namun, jangan biarkan dirimu terkurung dalam jeruji kesedihan.
Ingatlah bahwa yang pergi tidak akan kembali—atau mungkin akan kembali. Ia seperti bunga dan buah-buahan yang telah mencapai kemekaran serta kematangan dalam hidupnya. Kemudian ia akan layu, terus layu, dan akhirnya mengering.
Untuk apa engkau bersimpuh pada sesuatu yang bahkan telah menunggu terurai dan kembali ke tanah, sedangkan dalam kehidupan ini masih banyak orang yang melukiskan pelangi indah untukmu? Tidakkah engkau melihatnya?
Gabung dalam percakapan