Sumber

Kehidupan Yang Keras

Gbr: Magnific
Gbr: Magnific

Truk, berapa kali, ya, aku mengatakan, menulis bahwa kehidupan ini keras. Iya, keras bahkan tidak perduli apa itu kemanusiaan.

“Bahwa manusia ini seyogyanya menjadi manusia yang baik dan utuh terlebih dahulu sebelum beragama.”
EAN

Keras, lah, Truk

Ternyata hal-hal yang selama ini aku lihat di media sosial, misalnya, jadi nyata di sekelilingku. Misalnya bahwa kerja di suatu tempat bahkan ketika statusmu sudah tetap, itu tak menjadikan aman. Ya, meski, di mana sih, pada dunia ini yang aman? Adakah tempat aman di dunia ini? Lagi-lagi ya, sudah sering aku menulis bahwa tidak ada tempat aman di dunia ini, kan, Truk?

Segala macam hal dan berbagai macam cara, bisa untuk menendangmu dari tempatmu menyambung hidup. Cuma berdasarkan like and dislike. Ngeri, kan? Gimana, coba? Kerjamu, bener, pun, kalau modelnya sudah begini, ya susah. Padahal di dunia modeling seperti zaman kini, itu kan pertimbangannya bobot. Mana yang paling mendekati "kesempurnaan", bukan like and dislike.


Pragmatisme & Substitusi

Yaa, begitulah, Truk.

Itu kenapa setiap rencana hidupku sejak beberapa tahun ke belakang selalu bercabang. Aku sudah mengatakan belum, ya? Sedikit mungkin, ya? Termasuk dalam komposanku berjudul Model Hierarki Pengambilan Keputusan, di bagian akhir, aku menempatkan subtitusi. Itu ya termasuk jika dalam hidup ini, misal sebagai korban dislike itu ndak bisa gimana-gimana. Ya, sudah, buang kerjaannya, cari lagi. Toh, Tuhan sudah berjanji, di dunia ini semua bakal bisa makan, dapat makan, dst, dll. Ya, asalkan usaha, kan, Truk? Masa makanan turun dari langit?

Do'a adalah usaha.
Hidupku kini ya, realistis, pragmatis dan dinamis, kok.

Misalkan orang jatuh cinta, aku sudah melewati masa-masa di mana mabuk berat karena cinta. Bahwa yang harus di cintai itu "bendanya". Eh, bentar. Tapi haruskah aku nulis ini? Sedikit saja, lah. Iya, bendanya. Orang yang mencintai benda itu hanya akan terpaku pada satu hal saja, misalnya ya seseorang. Dulu, aku begini. Kalau ndak si A, ya ndak. Padahal, si A ini punya esensi hidup, punya jiwa, dst, dll. Gimana coba? Misalkan kisahnya mirip Dewi Widowati—Dewi Laksmi, yang menitis? Kalau mencintai benda, ketika ia tiada. Sirnalah sudah itu cinta.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!