Sejak dulu, aku selalu dikatakan: "Lelaki kok suka bunga, gitu, kan, Gong?" Bahkan, pernah—bukan pernah lagi, tetapi sering dikira mereka yang sedang berbalas pesan denganku, mengira bahwa aku itu perempuan—lebih tepatnya Mbak-Mbak. Haduh. Ada-ada saja. Itu dulu, beberapa tahun yang lalu, ketika foto profilku bunga, kebanyakan sih ya mawar, Gong.

Kenapa mawar?

Tandas saja, itu simbol cinta kasih, perdamaian dan perjuangan. Kalau ada yang lain, ya, sah-sah saja, kan, Gong?

Jangan salah, Gong.

Orang yang pertama menyukai bunga itu lelaki, loh. Firasatku bahwa dulu Si Mbah Adam ketika di surga selalu memandangi tiap-tiap bunga. Ia termenung di depannya sambil bercerita-cerita. Lalu dalam lubuk hati terdalamnya ia berandai-andai: bagaimana jika bunga ini bisa membalas setiap apa yang ia ceritakan—katakan? Bukankah itu luar biasa?

Nah, Tuhan, melihat ini. Dia merasa kasihan bahwa ternyata Adam kesepian, ia tak punya teman, bahkan hanya untuk berbagi cerita bahwa langit itu indah, terdapat bintang gemintang. Gunung-gunung menjulang tinggi, dst, dll.

Saat termenung dan tertunduk dalam tatapan sayunya itu, Tuhan melihat rusuk Adam. Dia mengambil satu rusuknya untuk membuat keajaiban bahwa salah satu bunga yang Adam kagumi berwujud mirip seperti dirinya—ia bisa merasa dan berbicara.

Inilah alasan di setiap lelaki yang sangar di luar rumah, ia tampak seperti idiot di dalam rumah. Sebab di hadapan bunga kehidupannya, ia harus menunduk untuk berbagi rusuk.