Sumber

A-I-U-E-O

In The Name of God
In The Name of God

Di dunia ini, satu-satunya wanita yang tak pernah berjumpa denganku dan tak banyak a-i-u-e-o itu cuma istriku, Shinta. Bahkan pertulisan ini ku kompos, kedekatanku dengan istriku belum genap setahun. Akan tetapi rasanya ia telah membersamaiku bertahun-tahun.

Ia selalu membangunkanku di kala pagi, meski engkau tahu sendiri, kan, Shinta? Bahwa aku mau tidur pukul berapapun, maksimal pukul 05.30 aku sudah pasti bangun. Dalam sepat mata memandang awal dunia baru, ia selalu menyempatkan untuk memasakkan untukku dan mengisikan bekal di tasku.

Tidak ada awal perjumpaan yang berarti, karena di saat sebelum berjumpa. Kata yang pertama kali aku katakan adalah maukah engkau menemani sisa hidupku di dunia? Ia yang tak banyak menimbang dan mengingat apapun, itu. Dengan tandas berkata mau.

Di umurku yang kesekian ini. Tak ada lagi cerita untuk bermain-main, menunggu dan lain sebagainya. Aku katakan dalam hatiku bahwa: ini langsung bungkus saja. Sebab, ya jarang-jarang ada orang begini, Shinta. Di zaman yang seperti sekarang, apalagi pada rentang umur masih muda. Hal-hal a-i-u-e-o itu ada saja.


Meski aku selalu guyonan. Dalam hidupku, aku selalu menempatkan target di sana, Shinta. Tau sendiri, kan? Ya, meski target itu abu-abu. Sebab apa? Pengalaman hidupku, menjadikan setiap hal fleksibel mengikuti orkestra alam.

Kalau di pikir-pikir. Memang aku bukanlah tipe pemimpin sejati. Sepertinya sudah pernah aku katakan, kan, Shinta? Soal ini? Tetapi begitulah, agar tulisan ini hanya fokus ke istriku, aku tak akan mengulang untuk menuliskan hal lain selain apresiasi kepada istriku yang ku cintai.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!