Sumber
Situs IHFANDICAHYO.COM sudah dialihkan ke IHFANDICA.COM. Terima kasih atas perhatiannya. _/\_

Rembulan: Ayat-Ayat Kauniyah



Sepertinya, namamu akan menjadi sekuel yang terus mengisi judul tulisanku, Rembulan.

Banyak orang yang terus bertanya tentang siapa engkau, bagaimana engkau dan seperti apa engkau. Padahal, bukankah kita sedang di bawah atap langit yang sama? Atau, bukankah aku pernah menulis namamu dengan gaya akrostik? Gaya yang sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak memakainya lagi. Mungkin, engkau kini terlalu aku cinta. Sayangnya, aku terlambat menjumpaimu atau di saat sayap-sayapku telah mulai berguguran dan tak bisa lagi terbang di balik awan. Aku menyesal? Tidak juga (nada tandas). Karena mungkin jika aku berjumpa denganmu beberapa tahun yang lalu, kesempatan untuk mengenalmu seperti saat ini tidak akan pernah ada. Hanya perjumpaan saja. Lalu apa artinya perjumpaan tanpa kenangan, Rembulan?

Aah, meski tidak dapat terbang di antara awan-awan, bukankah Tuhan telah menciptakan banyak hal yang masih dapat aku jumpai? Takut aku, iya, takut misalkan nanti aku di tanya: tidakkah engkau bersyukur? Atau di tanya dengan: nikmat manalagi yang engkau dustakan? Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang belum ada kisi-kisinya? Tidakkah asing dengan teks semacam ini, Rembulan? Tentu saja buatmu tidak asing, tetapi untukku, ini terlalu berat.

Masih ingatkah dengan jepretan pelangi kemarin, Rembulan? Duh, iya, aku kira saat perjalanan, hujan kembali mengguyur tubuhku yang hampir lunglai. Ternyata, Tuhan malah melukis pelangi di antara indah rona sunset, katamu: ih, bagus. Aduh, meleleh hatiku membaca balasanmu ....

Jatuh cinta itu sederhana, Rembulan.
Seperti kata-kata yang kadang aku kirimkan kepadamu: cintaku benar untukmu dan cintamu benar untukku. Sudah, sebahagia itu, sesederhana itu, untuk sekadar merasakan jatuh cinta. Apalagi jika setia, layaknya Mimi dan Mintuno. Eh, apakah engkau tahu, apa ini?

Pelangi kemarin itu seperti Ayat-Ayat Tuhan yang tidak tertulis. Dia bak ingin mengatakan: tenanglah, ingatlah, sesungguhnya di setiap kesulitan itu terdapat kemudahan. Yaa, kesulitan di gambarkan oleh langit yang mendung, rasanya akan datang hujan. Tetapi, Tuhan malah melukis pelangi. Aduh, bukankah wajahmu juga di lukis, di rias oleh-Nya, Rembulan? Masya Allah. Aku tak pernah bosan untuk menatapmu — Tuhan, jangan pernah jadikan aku bosan untuk menatap Rembulanku, siramilah cintaku padanya, jagalah perasaanku kepadanya selalu.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!