Sumber
Situs IHFANDICAHYO.COM sudah dialihkan ke IHFANDICA.COM. Terima kasih atas perhatiannya. _/\_

Rembulan: Tetaplah Tersenyum Di Angkasa



Rembulan, wajahmu-lah yang setiap saat aku tatap. Meski orang-orang hanya melihatmu di saat malam atau pada siklus tertentu. Namun, bagiku engkau tak memiliki malam dan siang serta siklus kehadiranmu.

Engkau yang akhir ini selalu hadir menemaniku dari waktu ke waktu. Engkau juga yang setia mendengarkan ceritaku tentang kabar dunia. Bukankah aku manusia biasa, Rembulan? Aku bukanlah superhero atau orang sakti lain dalam kisah-kisah Nusantara, atau mungkin setiap kisah ksatria dari setiap budaya dan bangsa. Aku bukan seperti itu.

Rembulan, aku telah berkata kepadamu sebelumnya bahwa aku tidak akan mundur, menghilang atau pergi membuangmu. Masih sama, Rembulan, aku masih mengingatnya dalam ruang kehidupanku yang amat sayu. Aku tidak ingin kepercayaanmu kembali luntur bersama rintikan air matamu, kekecewaanmu, tentang kicauan burung yang bertengger di pohon jivana.

Rembulan, aku punya hati, bagaimana rasanya hati yang sakit, aku juga merasakannya. Jadi, apa yang telah aku katakan, aku menyimpannya dalam hatiku, bukan pada pikiranku. Karena pikiran itu dapat menipu. Aku bisa saja membohongi diriku sendiri bahwa aku harus tetap berdiri meski darahku bercucuran dan air mata serta peluhku jatuh berurai. Namun, soal cintaku padamu, aku tak pernah membohongimu.

Rembulan, di saat pertama kali aku melihatmu. Aku telah melihat kekosongan di sana dari sorotan matamu. Namun, karena Tuhan, raja dari para raja belum memanggilku untuk datang kepadamu, aku hanya melihat itu sebagai cerita kehidupan. Bukankah setiap yang hidup punya cerita, Rembulan?

Dan ya, itulah mengapa dalam prosesnya aku melihat betapa dalamnya kehidupanmu. Engkau yang bersinar terang dalam kegelapan malam, tetapi berapa orang yang menyadari lukanya?

Oh, Rembulan, perjumpaanmu denganku ternyata menjadikanku harus menyembuhkan lukamu dan kehadiranmu untukku adalah sebagai pengingat bahwa mutiara tetaplah mutiara meskipun tergeletak di mana saja. Jika engkau dapat tertawa dan menyembunyikan setiap tangismu. Terus membara meski membakar dirimu sendiri. Bagaimana denganku sebagai lelaki? Aku anggap, inilah Ayat-Ayat Tuhan yang tak tertulis. Maafkan aku, Rembulan, karena jujur saja, aku tak dapat membaca banyak Ayat-Ayat Tuhan yang tertulis. Sehingga yang aku baca adalah dirimu, yang saat ini menjadi temanku dalam jurang neraka.

Rembulan.
Aku tidak akan ke mana-mana. Tetapi aku akan memperbaiki banyak hal ini sendirian. Seperti yang telah aku katakan, aku sedang berjalan ke neraka yang penuh akan ngeri. Aku tidak akan melibatkanmu dalam samara kehidupanku. Jika aku gugur, ingatlah pesan-pesanku: lihatlah kehidupan yang indah ini, banyak hal yang harus engkau tahu. Bukankah Tuhan Maha Baik? Maha Indah? Lihatlah dan ingatlah itu, Rembulan. Apabila aku selamat, aku akan melihatmu kembali dan apakah Punguk telah membersamaimu? Jika iya, aku akan melanjutkan perjalananku sebagai abdinya Raja, inilah kehidupanku yang telah aku dedikasikan sejak lama.

Tetaplah tersenyum di angkasa.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!