Sumber

Redup Remang Temaram Terpejam

Gbr: Banana
Gbr: Banana

Kekasih,
Ingin kulukiskan wajahmu di atas kilau dermaga.
Ia yang berkilauan terkena cahaya ratu malam,
Redup remang temaram terpejam,
Elok nan indah bercampur air mataku.

Kekasih,
Jangan engkau usap rintikan tangisku,
Biarkan ia beradu padu,
Mengikis sejuta sendu pilu,
Meleburkan sejuta kangen dan rindu.

Kekasih,
Air mata mana lagi yang dapat menyampaikan,
Bahwa setiap pertemuan akan melahirkan perpisahan,
Layaknya hujan yang terjatuh dari pangkuan,
Tanpa sempat saling berpelukan,
Bahkan tidak sempat berjabat tangan.

Kekasih,
Luka dari proses pengenalan tidak akan pernah sesakit pelepasan,
Sebab, di dalam kerelaan terdapat kenangan yang akan terbenam,
Terlebih jika pada saat puncaknya terjatuh dalam kerinduan.
Ia tersenyum sambil melambaikan tangan,
Bukan untuk merangkul, melainkan merestui saat jejak tidak lagi sejalan.

Kekasih,
Kini, ruang yang dulu hangat oleh bisik dan harapan
Telah menjadi keheningan yang teramat lapang,
Ketika kita akhirnya belajar bahwa tidak semua yang usai
Harus ditutup dengan badai dan penyesalan.
Sebagian perpisahan justru membutuhkan senyap,
Sebuah kesadaran yang paling tenang,
Bahwa ada hal-hal yang jauh lebih utuh ketika disimpan sebagai ingatan
Daripada dipaksa bertahan dalam lelah yang dipaksakan.

Kekasih,
Jika kelak rindu itu datang tanpa diundang,
Biarkan ia singgah sejenak sebagai tanda.
Sebab, di balik lambaian tangan yang perlahan,
Ada bentuk cinta yang paling matang,
Membiarkan yang dikasihi berjalan menemukan ruangnya sendiri.
Begitulah seyogianya cinta berada.

Catatan Refleksi: Perpisahan yang paling tenang adalah ketika dua insan saling merestui jalannya masing-masing tanpa harus menyimpan rasa benci.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!