Sisa Asap Di Kota Atlas
Deru bising berbagai mesin memenuhi jalanan. Ia adalah kuda dan gerobak yang digunakan untuk menyambung hidup setiap nyawa serta menggantungkan cita-cita. Meski dalam hidup ini, juga dilarang untuk menggantungkan diri, Kekasih.
Bulan baru, semangat baru. Mungkin inilah mengapa asap-asap yang mengepul menutupi mentari pagi itu tidak hanya berasal dari suara sahutan mesin-mesin, tetapi juga dari tempat pembuangan akhir terbesar di kota ini, Kekasih. Kebakaran. Meski demikian, mungkin di banyak benak masyarakat juga sedikit menyimpan curiga, sebab terlalu tak terhitung anomali kebakaran-kebakaran yang memang disengaja. Konon, sudah sejak lama TPA ini sebenarnya sudah overload.
Pekerjaan dan bekerja adalah jalan yang ditempuh oleh setiap orang, Kekasih. Ia yang mungkin sedang terluka jiwanya, batinnya, atau kehidupannya diterpa badai dan pasang surut pun akan tetap bekerja. Sebab, bekerja merupakan seni bertahan hidup. Oleh sebab itu, jangan pernah membuat api yang akan memicu kebakaran di dalam ruang kerjamu, karena di sana engkau tidak pernah tahu bahwa mungkin di setiap senyum orang-orang yang engkau lihat sebenarnya menyimpan luka dan derita.
Jika engkau tidak bisa membuat api yang menghangatkan, tidak perlu membakar ruang tempat harapan orang-orang disandarkan. Bukankah dirimu sendiri juga tidak ingin hal serupa menimpamu di mana saja, kapan saja?
"Maka, jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu."
— Konfusius
Ingatlah bahwa setiap luka akan meninggalkan jejak dan bekasnya. Engkau memang bisa meminta maaf, namun lukanya akan selalu ada di sana, bahkan jika musim berputar serta warsa berganti. Bagaimana jika ternyata bekas luka-luka itu nantinya akan menjadi kubangan nasib hidupmu kelak dari apa yang engkau bakar hari ini?
Begitulah asap-asap yang dihirup jutaan manusia di Kota Atlas saat itu. Ada orang tua renta atau bahkan balita yang juga menghirup asap dari udara yang sama. Mereka tidak membalasmu, namun tidakkah engkau tahu bahwa organ tubuh mereka telah berbekas asap tersebut? Engkau dapat meminta maaf di depan umum dan melakukan konferensi pers. Hanya saja, bagaimana caramu mengusap setiap air mata yang pernah keluar saat pedih matanya tertutup asap?
Refleksi Kehidupan:
Inilah kehidupan yang memang nyatanya tidak didesain untuk menyenangkanmu saja, Kekasih. Sebab, Tuhan juga memiliki banyak hamba yang permohonannya berbeda-beda. Ada dokter yang meminta pasien, ada pula tukang tambal ban yang meminta rezeki, pun ada pula tukang bengkel yang mengharap datangnya order reparasi, dan sebagainya.
Akan tetapi, ingatlah satu hal bahwa luka yang engkau tancapkan tidak akan pernah hilang. Berhati-hatilah dalam menuntun hidupmu, barangkali dari luka tersebut jalanmu menjadi terjal atau bahkan mungkin anak cucumu sendiri yang akan menerima upah atas apa yang engkau lakukan di masa kini. Begitulah sebab-akibat yang akan terus menghantui.
Gabung dalam percakapan