Selamat Malam, Sinar Rembulan
Kekasih, sudah dua malam terakhir rembulan bersinar anggun nan jelita di atap langit-langit dunia. Ia bagaikan mata yang bersinar terang lagi berbinar. Seumpama persona manusia, eloknya bak seorang dewi yang cantik nan permai, dengan senyumnya yang semerbak laksana bunga wijayakusuma mekar dalam kesunyian malam. Bukankah setiap keindahan juga adalah karunia Tuhan?
Apalagi malam ini, Kekasih.
Ibarat kangen, ia adalah puncaknya rasa kangen. Kangen itu bukan tentang kata-kata. Orang yang kangen namun hanya mengirimkan kata-kata, itu namanya fatamorgana. Kangen adalah perjumpaan untuk melepas setiap rindu agar menyatu menjadi kenyataan yang tak lagi butuh kata-kata. Apa guna kata-kata selagi masih diberikan kesempatan untuk memeluk setiap rasa kangen, Kekasih?
Kekasih, maka biarkanlah malam ini menjadi saksi tanpa perlu banyak suara. Ketika angin perlahan membelai keheningan, biarkan napas suaranya lebih nyaring dari sekadar bisikan lisan. Dalam jeda yang paling jujur, tatapan adalah jembatan dan dekapan merupakan muara tempat seluruh lelah serta resah akhirnya menemukan jalan pulang.
Sebab di bawah temaram cahaya rembulan, secawan kangen tak lagi perlu mengejar waktu, Kekasih. Jarak yang sempat menabur gelisah di sepanjang ingatan, kini luruh menjadi debu yang disapu kehangatan. Jika rindu yang dipupuk saban malam adalah doa yang paling sunyi, maka setiap perjumpaan merupakan jawaban yang dilangitkan—sebuah karunia yang direstui oleh Sang Maha Pencipta.
Genggamlah jemari ini, Kekasih. Rebahkan seluruh penatmu di dada tempat namamu dilangitkan dan selalu dipanggil tanpa jemu. Biarlah rembulan di atap langit-langit dunia itu tetap bersinar elok, menjaga rahasia dua jiwa yang tak lagi mengejar kata, sebab mereka telah lunas menyatu dalam kenyataan peraduan.
Gabung dalam percakapan