Sumber

Numquam Iterum

Gbr: Banana
Gbr: Banana

Ada seseorang yang meminjam uang dari saya. Tanpa bertanya alasan, tujuan, atau keperluannya, saya langsung memberikannya. Ia pun berjanji akan mengangsur pinjaman itu setiap bulan.
Saya diam dan memercayainya.

Namun, ia mengingkari janjinya sendiri.
Saya tetap bergeming.

Ketika saya sedang membutuhkan uang tersebut, ia bahkan tidak berniat untuk mengusahakannya.
Saya menelan kekecewaan itu dalam hening.

Sewaktu akhirnya mendapatkan pinjaman untuk mengembalikan uang saya, ia datang dengan angkuh dan merendahkan.
Saya menyikapinya tanpa kata.

Saat saya membutuhkan bantuan, ia enggan mengulurkan tangan.
Saya menerima penolakan itu dalam diam.

Ia pun baru mau membantu saat tetua datang, itu menandakan bukan karena menghargai kehadiran saya, melainkan demi menutupi rasa malunya sendiri.
Saya tak mengomentarinya.

Ketika para tetangga bergotong royong, ia justru bersantai sambil merokok seolah-olah seorang raja di rumahnya.
Saya hanya memandang perangainya tanpa menegur.

Sewaktu saya mengadakan acara di rumah, ia memilih berdiam diri di rumahnya sendiri dan enggan hadir.
Saya memendamnya tanpa bersuara.

Meskipun berkali-kali berkunjung ke kota tempat tinggal saya, ia tak pernah sudi untuk singgah di rumah.
Saya kembali memilih tak acuh dan tidak berucap.

Ketika saya menyampaikan bahwa istrinya meminjam uang setelah saya menagihnya namun tidak bertanggung jawab, ia justru menyuruh saya kembali menagih langsung kepada istrinya—padahal pada saat yang sama, ia sendiri yang melarang istrinya bekerja.
Sekali lagi, saya hanya menahannya dalam diam.


Kendati demikian, sejak saat itu saya menyadari dan berjanji tidak akan pernah lagi mengulurkan tangan kepadanya. Ia hanya ingin menjadikan saya sebagai alas kaki, bukan keluarga atau mitra yang sejajar dan setara.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!