Sumber

Harina, Dalam Sebuah Catatan

Gambar: wallpapersexpert.com
Gambar: wallpapersexpert.com

Ina. Oh... maksudku Harina. Iya, itu namamu.
Nama yang sejak kecil aku tuliskan di buku-buku milikku, Ina. Duh... maksudku, Harina. Namamu tertulis karena kamu adalah teman dekatku, tempat di mana aku berdiri, menghabiskan waktu liburanku.

Ina. Iya, memang benar, namamu memang Ina. Kependekan dari namamu. Maksudku kepanjangan dari namamu adalah Indonesia. Tanah dan tumpah darahku. Tak cuma itu, sederet peluh, duka, dan tangisku menyelimuti dirimu, Ina.


Sejak kecil aku selalu membayangkanmu, berdiri dan duduk bersamamu di dalam kereta. Lalu kita berkeliling dunia. Dua tahun lalu kamu mengantarku ke Kota Kembang, aku masih ingat malam-malam penuh kenangan bersamamu, sepanjang perjalanan aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Karena aku tak pernah tidur bersamamu sebelumnya, Harina.

Terus aku berzikir. Meski zikirku tak seperti orang kebanyakan. Kamu tahu, aku bukanlah seorang pelajar atau santri yang menghabiskan usiaku di pondok-pondok yang kian sepi dari tahun ke tahun. Bagiku mengingat Tuhanku, itulah zikir. Begitu maksudku, Harina. Aku sering takut bilamana kamu tiba-tiba linglung dan tergeletak di tengah-tengah hutan yang sepi, sunyi. Hanya Tuhanku lah yang dapat mengulurkan tangan-Nya padaku, Harina.

Seminggu lagi, aku akan menemuimu. Seperti biasa. Di tempat biasanya. Tujuannya masih sama. Di dekat polder kota tua itu. Aku akan menggenapi takdirku dan menuliskan nasibku, Harina. Sampai jumpa, mungkin riak-riak kemilau sinar rembulan malam akan menyaksikan pertemuan kita berdua.

*INA adalah singkatan dari negara kita, yang tidak aku tahu sebelumnya bahwa negara kita kadang juga disingkat IDN, IND, apalagi? Mungkin itu yang pernah aku lihat. Casi mirip dengan India, ya? Apakah cuma kebetulan? Tanyakan saja pada hatimu. Heuheuheu.

**Harina adalah nama salah satu kereta yang sering memacu ular besinya dari Stasiun Tawang, dan seterusnya.

Rahayu.
Selamat sore.


Teks asli di publikasikan pada tanggal 21 September 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!