Sumber

Berteman Dengan Setiap Nafas Kehidupan

Unnes Dalam Suatu Malam
Unnes Dalam Suatu Malam

Jalanan ini cukup asing?

Iya, asing, Gong. Meski aslinya, tidak asing, kok. Aku pernah hidup dan bermain di wilayah ini bertahun-tahun lamanya. Bahkan masih teringat jelas goresan-goresan setiap retakan tanahnya jika dilukis tiap jengkalnya. Gedung di kanan dan kiri ini, dulu tidak ada. Apalagi di depan sana itu, juga tidak ada.

Beberapa tahun lalu, aku melewati jalan ini bersama atasanku, Pak Sutrisno. Sewaktu kecil, aku pernah berjalan sampai di atas desa tersebut. Selebihnya, aku tak pernah tahu kehidupan di sana. Barulah saat aku dewasa aku “cukup sering” melewatinya. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa apa yang akan aku lalui di masa depan, Tuhan telah memperlihatkannya terlebih dahulu, Gong?

Ya, itu termasuk dengan atasanku tersebut.

Sebelum jalanan ini, di belakang sana, dari arah Banyumanik. Jalanannya ngeri, Gong. Bahkan atasanku mengatakan bahwa jalan tersebut adalah jalan ekstrem yang pernah ia lewati. Aku kala itu tak takut apa pun, termasuk tak takut jika kuda besiku tak kuat. Padahal atasanku ini gemuk, tak sekadar gemuk umum, namun rasanya berat juga. Namun sekali lagi, aku percaya diri. Dari bawah ia lahap habis terjalnya jalanan oleh kudaku.


Beberapa waktu kemarin, saat foto ini aku jepret, aku melewatinya lagi. Sendirian. Ini adalah waktu setelah aku melayat di rumah teman kerjaku. Rasanya, kini aku benar-benar sudah menua ya, Gong? Buktinya, orang-orang tua dari setiap temanku mulai pergi menanggalkan dunia ini beserta isinya. Apakah dunia ini sudah tidak menarik lagi? Sehingga mereka memutuskan untuk melepasnya?

Dalam renungan malamku, aku pernah bertanya-tanya: mengapa orang-orang baik selalu pergi lebih awal?

Di tengah malam yang sunyi itu aku menatap diriku sendiri, berapa kali aku tertipu dan menipu? Inilah jawabannya, Gong. Bahwa orang yang menipu itu cenderung bersikap acuh tak acuh atau tak pernah memikirkan apa pun. Namun berbeda dengan orang yang ditipu. Dalam kesendirian, kesedihannya, ia menumpuknya dalam hatinya. Termasuk setiap hal. Orang-orang baik, ternyata selalu melawan dirinya sendiri. Ia menahan tiap apa pun yang tak baik sehingga dirinya sendiri kalah dalam pertarungan abadinya. Efeknya apa? Sama dengan kata yang mengatakan bahwa: ceritakan setiap kegundahan hatimu dengan tertawa atau menangis agar hatimu lega.

Benar.

Efeknya dari setiap reruntuhan itu menumpuk dalam ruang kehidupannya yang lain. Inilah kenapa orang-orang baik selalu pergi lebih awal. Mereka adalah orang-orang yang habis oleh dirinya sendiri. Pernah mendengar kata yang mengatakan bahwa: dalam setiap senyuman dan tawa orang-orang, terdapat banyak hal yang disimpan di belakangnya. Orang yang tertawa di depanmu, sambutlah dengan tawa juga, sebab engkau tak pernah tahu bahwa di ruang kehidupan yang lain, mereka juga tertawa seperti yang engkau lihat saat ini.

Jangan-jangan, mereka sebenarnya menyimpan luka?


Gong.

Kendati dari kecil aku selalu cemburu dengan teman-temanku sebab orang tua mereka genap, akhirnya, dewasa ini aku mengerti. Apakah pernah melihat sebuah kata yang mengatakan: jangan lihat mereka di depan, tetapi lihat mereka dari belakang. Apa yang telah Tuhan ambil darinya?

Nah, mungkin, Tuhan mengambil bahagiaku sejak kecil. Namun tahukah, Gong? Bahwa kini, ibuku masih melihatku mendewasa seperti ini. Ia melihat anaknya telah berdiri di kakinya sendiri. Ia telah melihat anaknya membangun bangunan kecilnya sendiri. Ia juga melihat anaknya telah menemukan teman hidupnya yang akan menemaninya, dan ia berkemungkinan melihat cucu kesayangannya menyambutnya. Ini termasuk berkah dan anugerah, loh, Gong?

Sebab, banyak teman-temanku yang genap itu, akhirnya ditinggalkan oleh orang tua mekerka satu demi satu, hingga kini. Mungkin, mereka juga tak sebaik perjalananku nasibnya. Aku menyadarinya, Gong. Namun, dalam kehidupan ini, seperti apa pun nasib dan takdirnya, tetap saja layak untuk disyukuri, kan, Gong? Bukankah begitu kata, Semar?


Kembali lagi.

Saat malam itu, aku juga merasakan kenapa akhir-akhir ini aku selalu di sini? Jangan-jangan ini juga kode lagi? Ya benar saja, Gong. Wong sebelumnya, baru beberapa hari lalu aku juga ke sini, kok. Aku mengulang kisah masa kecilku yang suka jajan mi ayam di salah satu jalanan ujung jauh. Sayangnya, di sana aku tak mendapat minum, bahkan tempatnya cenderung tidak layak untuk kondisi masa kini. Sejak sebelum masuk, aku sudah bertanya-tanya dalam hati: apakah ini akan aku lanjutkan? Tempatnya benar-benar masih mencerminkan kondisi masa lalu di mana depan jualannya adalah jalan umum yang menghubungkan setiap nadi. Ia belum berubah. Rasanya? Aku sudah lupa persisnya, sebab isi kepalaku terisi dengan kondisi tempat dan minuman yang tidak datang-datang. Ternyata memang tidak ada.

Kurang lebih seminggu setelahnya.

Kabar lelayu datang lagi. Dari mana coba?

Benar, dari tempat ini. Ia adalah saudara jauhku, Gong. Nenek dari keponakanku yang pernah kutulis sebelumnya di mana ia menjadi RT itu dan kemudian aku juga menyadari satu hal: memang sudah saat dan waktunya begini, giliranku.

Begitulah.

Bukankah Tuhan selalu menempatkan kita di mana pun dan kapan pun itu dengan alasan? Aku juga selalu menyadari ini, Gong. Termasuk jika aku pikir-pikir, kenapa Tuhan selalu melangkahkan kakiku untuk belajar dan belajar. Ya karena kini, aku jadi tulang punggung sekitarku menggantikan orang-orang yang dulu pernah aku lihat itu. Gimana kalau aku tidak belajar, coba? Apakah aku mampu? Meski, ya, bukankah Tuhan menempatkan setiap orang di tempatnya berdasarkan kemablusannya? Namun, aku rasa, Tuhan menyiapkanku untuk berada di sini jauh sebelumnya.

Aku terima. Jika bukan dengan waktu, tenaga, dan pikiran, mau dengan apa lagi, coba? Wong kini saja aku punyanya ya itu. Jadi, ya, oke, lah. Selama aku bisa. Toh, aku selalu punya alasan bahwa DNA hidupku dibentuk oleh orang-orang baik, yang mana nyatanya aku tidak bisa membalas kebaikan mereka satu per satu.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!