Sumber

Pada Suatu Malam Di Sebuah Ruas Jalan

Bengkel Kehidupan
Bengkel Kehidupan
Suatu malam, aku menepi di ujung lelah. Ingin ku rebahkan tulang yang seharian ku banting-banting pada sebuah papan dan tikus. Termenung dalam dingin, memandangi gelap yang semakin larut, orang-orang datang dan pergi. Tetapi memang begitulah kehidupan, kan?

Di kota kembang, teh hangat dalam sunyi itu bak madu, meskipun pahit ia tak berbiaya. Namun ini bukanlah kota kembang. Ini adalah kota di mana aku menuliskan setiap jejak langkah dan kenangan sejak kecil. Tak terasa, rasanya sudah setengah perjalanan hidup aku lalui—benar, kurang setengahnya lagi selesai untuk berakting.

Dalam lamunan, ku hadapkan mata pada tembok ratapan, tempat orang meratapi nasib, saksi bahwa besar kecilnya uang adalah sama rasanya. Bukan karena nilainya, tetapi sebab perjuangan di baliknya. Setiap uang dari hasil merampok, mencuri atau mengkadali orang lain juga tetap memiliki perjuangan. Meski sayangnya, ia berada dalam jalan perjuangan yang salah.

Apakah salah?
Ya, mungkin.

Nama yang tertera di sana tidaklah asing.
Seperti pernah terlihat sebelumnya, tetapi di mana?
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!