Goresan Dari Tengah Malam
Kekasih, lihatlah rona rembulan dalam temaram dibalik rindang pohon tersebut. Begitulah malam selalu indah, ya? Dalam kesunyian malam, yang ada hanyalah bunyi suara hatimu sendiri. Ia bernyanyi layaknya bul-bul bersiul ditengah kebebasannya mengangkasa. Kalbumu lepas menari-nari bagai ikan-ikan di lautan mengiring goyangan kedalaman ombak samudra. Apakah engkau bagian dari samudra yang terlempar dalam panggung kehidupan?
Dahulu, seorang teman pernah mengkritikku sebab aku selalu membuat personifikasi rembulan, bahwa ia cantik. Katanya, aku salah, bukan karena diksi cantik itu lekat pada wanita. Akan tetapi sebab rembulan faktanya tak secantik yang terlihat dari kejauhan. Aku setuju? Tentu saja. Justru dalam cinta, menerima kelebihan itu sudah biasa, yang luar biasa adalah menerima segala dan tiap-tiap kekurangan. Bukankah begitu, Kekasih?
Ia hanya memandang apa yang terlihat dan menanggalkan sisi gelapnya rembulan. Siapa yang tahu bahwa dalam kegelapan rembulan ia menangis? Bukankah rembulan yang selalu kita lihat tampil elok nan berseri? Yaa, sisi gelap rembulan yang tak setiap orang tahu. Bisa saja, sisi gelap itu merupakan majas dari pada sukar perjalanan hidupnya atau fakta bahwa setiap manusia memiliki sisi gelapnya masing-masing? Siapapun itu. Bukankah aku selalu mengatakan demikian, Kekasih? Maka, jangan kaget misalkan, contoh, baru-baru ini Relationship Manager sebuah bank terkemuka viral karena perilakunya yang tak mencerminkan seorang "relationship". Jangan kaget, biasa saja. Setiap orang juga akan mengalami masa-nya masing-masing, ndak usah jumawa kalau nasibmu sedang aman dan tak perlu dendam atau sedih saat dunia mengolok-olokmu. Begitulah panggung sandiwara, bukan?
Langgeng, tanpa susah, tanpa seneng, anteng manteng, sugeng jeneng.
Nyatanya, setiap hal di dunia ini yang setidaknya sudah aku jumpai, meski depannya elok bak gemerlapnya dunia. Ia selalu memiliki pintu belakang yang penuh dengan debu dan kotoran. Inikah dunia? Tentu saja. Engkau dapat tahu apapun itu jika engkau mampu masuk ke dalam kedalaman hatinya dan berdiri di belakangnya. Karena berdiri di depan juga sudah biasa. Bukankah orang-orang senang sekali untuk memilih berdiri di depan? — padahal, Tuhan selalu mentertawakan manusia ketika manusia bersujud, kenapa coba? Iya, benar, karena kepala manusia beserta isinya itu lebih rendah dari pada tempat keluarnya kotoran.
Gabung dalam percakapan