Sumber

Konspirasi Di Ujung Senja

Abrakadabra
Abrakadabra

"Mbak, pulang. Aku malu kalau tidak pulang."

Itu adalah kalimat yang terucap dari seseorang, Gong. Berarti dengan logika yang sama, saat kemarin Maret. Konon dia tidak mau istana megahnya itu ikutan digunakan untuk acara pesta "keluarga", hingga seorang tetua datang untuk membujuk ego dan kehormatannya yang tinggi tersebut. Barulah ia mau. Dengar-dengar, ia juga akan mendapatkan malu kalau sampai istana yang gagah dan mewah itu tak digunakan untuk perjamuan acara. Singkatnya, akhirnya ia mau ikut serta. Jadi, istananya dibuka bukan karena atas dasar "keluarga", namun karena kemaluan, ya, Gong?

Baik, aku catat dengan cermat.

Ia yang selalu mengatakan ke semua orang bahwa tak dapat membalas setiap jasa, budi, waktu dan tenaga kakaknya tersebut. Cuma akting agar dikira orang baik saja. Teknik agar tak di rendahkan kan ya merendah, kan, Gong? Malahan dengan tangan dan mulutnya sendiri ia mencabik-cabik setiap budi kebaikan tersebut. Ironis sekali ada banyak hal yang tidak sinkron antara kepala, hati, jiwa, kemaluan dan tindakan.

Meski kadang ya, merasa paling gagah dan pintar sendiri. Justru, setiap julukan itu bukan datang dari diri sendiri, kan, Gong? Seorang legenda tak perlu mengatakan dirinya legenda, karena semua orang sudah tahu. Gula, juga tak perlu mengatakan dirinya gula, karena semua orang juga sudah tahu. Hanyalah badut yang bertopeng perlu legitimasi agar semua orang mempercayai kebohongannya.

Ia selalu merasa kesepian hidupnya, sebab meski mengaku pintar dan melabeli akamsi sebagai orang bodoh tak berpendidikan. Kepintarannya hanya ia makan sendiri, tidak untuk membangun dan menyadarkan masyarakat. Ia hanyalah seekor pungguk yang sedang pamer kepada segerombolan domba—bahwa ia bisa terbang.

Kemudian itulah yang membuat ia bertekad untuk mendapatkan teman agar ia tak kesepian lagi. Kendati demikian, ia yang selalu berbusa-busa mengatakan orang yang paling konsisten dan konsekuen dalam setiap ucapan tersebut terpeleset oleh ludahnya sendiri. Ironi memang, namun begitulah kehidupan. Bahkan, kanan dan kiri-pun tak sudi barangkali menjenguknya dalam lara. Lha wong sang ratunya saja mengatakan: tak butuh orang-orang bodoh ini—padahal beberapa orang bodoh tersebut yang meminjamkan kertas kehidupan padanya.

"Tak layak menghina orang yang dari padanya engkau mendapatkan makan dan penghidupan, Kekasih."

Pamer dan bangga adalah bentuk karakternya. Sebab mungkin sepanjang hidupnya tak pernah menemukan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Sampai suatu waktu, nasib mengubahnya. Kini, dari setiap sisi kehidupannya ia berbangga dan lupa dari mana ia berasal, dengan siapa ia pernah di besarkan.

"Setiap bulan nanti akan aku sisihkan ...."

Bulan-pun seiring berganti namun penyisihan tiada pernah usai. Malahan janjinya yang di sisihkan untuk mengulur menjadi tahun-tahun yang akan datang. Dan ketika tahun itu telah datang, ia masih mengulur dan malahan menghina sejadinya orang yang pernah mengulurkan tangan kepadanya. Kemudian berperan menjadi korban adalah tingkah lakunya yang juga ia banggakan saat merasa pandai berpolitik—meski ia sendiri selalu di kadali oleh siasatnya yang tak terukur.


Manusia akan selalu seperti itu, kan, Gong?

Apalagi hanya manusia-manusia lain yang engkau temui sepanjang perjalanan hidupmu. Bukankah aku pernah menulis sebuah peribahasa yang aku pinjam dari bahasa latin:

Homo homini lupus — Manusia adalah serigala bagi sesamanya.

Waspadalah.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!