Kerja Sebagai Anak Tingkat Depo
Aku menemukan berkas ini kembali di kedalaman Palung Mariana dengan cara tidak sengaja. Ternyata, sifat malasku memang sudah ada sejak dahulu, ya? Berkas apakah ini? Ya, ini adalah bukti bahwa dahulu aku pernah bekerja di depo dengan prinsip palugada (apa yang diminta, semua ada/dikerjakan).
Menjadi staf depo memang seperti itu. Setelah aku pikir-pikir, staf depo justru memiliki keahlian yang bersifat generalis karena mampu menguasai seluruh operasional perdepoan. Hal ini berbeda dengan kantor pusat yang sistemnya lebih terdesentralisasi.
Sebagai informasi, kedua berkas ini merupakan program kecil untuk menghapus data secara otomatis agar tidak perlu dilakukan secara manual. Ya, aku memang enggan melakukan pekerjaan secara manual. Terlebih untuk pekerjaan perulangan yang datanya sebenarnya itu-itu saja, secara denah "tidak berubah".
Satu berkas tersebut mewakili satu perusahaan. Oleh karena itu, aku paham betul betapa beratnya beban kerja di tingkat depo. Padahal, jika dihitung-hitung, dahulu seluruh jenis pekerjaan administrasi aku tangani sendiri, mulai dari urusan pergudangan hingga keuangan. Kuncinya terletak pada kecerdasan kita dalam mengelola waktu dan tenaga, meskipun pada kenyataannya beban kerja tersebut tidak sebanyak dan tidak semengerikan yang dibayangkan orang-orang.
Itulah kenapa aku selalu berkata kepada bawahanku kini pada tingkat depo bahwa kerja di tingkat perdepoan adalah lahan untuk mengasah kemampuan, keterampilan, dst. Jika sudah mampu, silakan untuk terbang jauh lebih tinggi lagi, tanggalkan hal-hal yang sudah engkau lihat selagi engkau masih muda. Dunia terlalu kecil untuk engkau habiskan setiap hari memandangi nuansa yang sama.
— Ihfandi Cahyo, 2026
Tak ada satupun didunia ini yang kekal. Maka ukirlah cerita indah sebagai kenangan, karena dunia memang sebuah cerita.
— KH. Hasyim Asy'ari
Gabung dalam percakapan