Cinta Sederhana
Selamat sore.
Selamat membaca di mana pun engkau berada. Aku berterima kasih kepada semua orang karena telah menjadi pembaca yang baik untuk semua yang aku ketikkan di sini. Selamat mengarungi malam Minggu atau Al-Ahad malam nanti, semoga bacaan di bawah dapat menjadi teman untuk mengarunginya.
Sekali lagi, terima kasih.
“Tangis wanita adalah segala kata-kata yang tidak mampu lagi ia tulis menjadi surat-surat romantis untukmu, kekasih.” — Ihfandi Cahyo, Semarang, 2018.
[Cinta Sederhana]
Pernahkah kamu jatuh cinta dan mengungkapkannya, lalu diterima? Perasaan berbunga-bunga akan selalu meliputinya. Apa pun yang kita lakukan menjadi lebih ringan, seolah tidak ada beban.
Saat kemudian kamu tidak pernah merasa dirugikan ketika uangmu habis untuk bersenang-senang bersamanya. Lalu waktumu seolah menjadi semakin cepat sehingga kamu tidak pernah merasa bahwa kamu telah menghabiskan berapa jam lamanya untuk menemaninya jalan. Dan kamu tidak pernah peduli apa yang akan orang lain katakan tentang cintamu, apakah itu tentang baik dan buruknya. Yang kamu tahu saat ini hanyalah rasa bahagia karena telah bersamanya.
Mungkin kamu akan mengingat namanya, beberapa orang akan selalu melihat foto wajahnya, beberapa orang lagi akan membawa sesuatu pemberiannya, dan yang lain akan ada yang selalu membayangkan senyuman di wajahnya. Semua hanya sebagai media untuk tetap dapat mengingatnya, untuk tujuan yang satu, yaitu mendekatkan jiwa dan raga kita ke dalam cintanya.
Semua itu kemudian berlalu dan kamu tidak butuh lagi selalu mengingat namanya, membawa fotonya, membawa pemberiannya, atau beberapa saat selalu membayangkan senyumannya. Kenapa kamu tidak membutuhkannya lagi? Karena dirimu dan cintamu telah menjadi satu kesatuan. Di mana ketika kamu palingkan wajahmu, di sanalah wajah dan senyuman kekasihmu dapat kamu lihat; di mana saat kamu bekerja dengan tanganmu, saat itulah kamu akan langsung ingat dan merasa bahwa dia pernah memegang lembut tanganmu itu; saat kamu bekerja, ketika itulah segala alat yang ada seperti sebuah pemberiannya yang selalu kamu kerjakan dengan hati-hati.
Ya, semakin hari kamu semakin tenggelam bersama cinta. Semakin kamu dapat menaiki tangga satu dengan yang lainnya. Indahnya cinta saat kamu dapat merasakan jatuh cinta sepanjang perjalanan itu, tidak pernah luntur karena ruang dan waktu. Cintamu yang satu dan akan tetap begitu.
Tangis dan tawamu sudah menjadi satu hal yang sama. Ketika dia menangis, saat itu pula ia akan dapat tersenyum karena dirimu; saat ia tertawa lepas denganmu, ketika itu juga ia bisa menangis karena dirimu pula. Namun, hanya satu yang kamu ketahui, semua hal adalah sama. Karena kamu tertawa dan menangis telah bersamanya, seorang yang kamu cintai. Kamu bahkan tidak peduli besok akan makan apa, akan minum apa, akan pergi ke mana. Kamu hanya tahu bahwa saat ini dunia telah menjadi milikmu dan dia, kamu akan rela makan dan minum apa pun asal bersamanya.
Kamu tidak lagi sangat butuh belajar tinggi yang akan menuntunmu menjadi seorang yang pintar, cerdas, atau sejenisnya. Kamu tidak memikirkan lagi bahwa saat ini harus menabung untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Atau kamu sekarang tidak butuh lagi sebuah kekayaan, sebuah gelar, dan berbagai macam lain. Kekayaanmu adalah dia, gelarmu adalah cintanya. Bukan yang lain.
Yang perlu kamu ingat adalah tetap menjaga kepercayaannya kepadamu, menjaga cintanya yang telah ia berikan kepadamu. Karena sama sepertimu, ia tidak mementingkan apakah kamu kaya, apakah kamu pintar, apakah kamu ganteng atau cantik, dan berbagai lawan kata lain. Ia sudah sepenuhnya percaya kepadamu.
Hanya saja jika kamu menduakan cintanya, itu tidak akan pernah ada ampun untukmu. Sekalipun seribu dunia dan seribu kehidupan telah kamu lalui bersamanya, itu akan tampak terlihat sia-sia. Karena kamu bukanlah yang dulu lagi. Kamu sudah menempatkan sosok yang kamu anggap cinta di dalam hati kecilmu, selain dia.
Di sinilah Tuhan mendidik kita semua. Semua yang terjadi karena kehendak-Nya. Karena Tuhan sendiri ingin dikenali. Dengan sangat rapi Tuhan menuntun kita untuk menuju kepada-Nya setiap waktu dan setiap saat. Namun, apakah kita selalu sadar? Dengan romantis pula Tuhan mengajarkan kepada kita tentang Diri-Nya, tentang apa yang harus kita lakukan. Bukankah Tuhan itu Maha Asyik?
Aku tidak akan menyamakan Tuhan dengan apa pun di alam semesta ini, karena tidak ada sesuatu yang bisa menyamai-Nya. Aku hanya ingin memberikan ilustrasi sederhana yang sering kita jumpai di sekitar kita. Jika diri kita sudah dapat mengetahui tanda-tanda bahwa Tuhan tidak pernah lelah memperhatikan, merawat, menyayangi, mencintai, dan seterusnya, itu artinya kita akan terbawa pada satu kondisi yang berbeda. Akan tetapi, semua itu tetap membutuhkan perjuangan, seperti saat kita jatuh cinta pada seseorang. Kita akan berusaha semaksimal mungkin, kita akan mengungkapkan cinta kita kepada-Nya, dan kita akan membuktikan bahwa kita layak dan pantas.
Dan bila kamu telah benar-benar merasakan hadir-Nya lalu kamu tenggelam bersama-Nya, kamu tidak lagi peduli dengan apa yang kamu miliki, karena sejatinya kamu tidak punya apa-apa. Kamu tidak lagi peduli dengan segala yang terlontar dari semua orang tentang keberadaan Tuhan itu sendiri, karena imanmu sudah tidak bisa ditawar. Tidak dapat bertambah walaupun disanjung-sanjung, dipuji, dan lain-lain; tidak pula berkurang meskipun dicaci, diumpat, ditertawakan, diinjak-injak, dan lain-lain. Semua yang kamu lihat adalah kenikmatan hidup itu sendiri, kamu tidak melihat lagi bahwa yang akan datang itu baik atau buruk. Semua yang kamu dapatkan adalah kebaikan, karena begitulah Tuhan bersama orang-orang yang sabar.
Apakah Tuhan peduli dengan agama dan bangsamu? Aku rasa tidak. Yang Tuhan pedulikan adalah bagaimana kita akan dapat selalu mengingat-Nya, meskipun kita punya cara masing-masing. Tuhan akan mengetahui manakah orang-orang yang benar menuju ke Jalan-Nya. Kita semua yang sedang berjalan kepada-Nya tidak akan pernah dapat melihat satu dengan yang lain terkecuali atas kehendak-Nya pula. Bisa saja seorang yang kita prasangkakan buruk itu tanpa kita ketahui sedang menyebut nama-Nya dalam hatinya; bisa saja orang-orang yang selalu kita kafir-kafirkan itu selalu memohon ampun kepada-Nya; bisa pula orang-orang yang tidak mengaji atau belajar keagamaan itu dalam hatinya selalu bertanya kepada alam, belajar kepada alam untuk mengetahui siapakah penciptanya, dan lain-lain. Lalu apakah kita mengetahui? Tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia-rahasia itu terkecuali Tuhan sendiri.
Saat semua itu sudah menjadi kebiasaan kita untuk selalu ingat kepada-Nya, pedoman yang selama ini kita bawa mulai lenyap dan melebur ke dalam diri kita sendiri. Yang mana perilaku dan ucapan kita adalah manifestasi dari apa yang sudah kita pelajari dari pedoman yang selalu kita bawa. Seperti halnya jatuh cinta, kita tidak lagi berputar-putar pada namanya, pada pemberiannya, pada wajahnya, pada fotonya. Karena yang kita cintai bukanlah namanya, bukan juga pemberiannya, bukan pula wajahnya. Apakah kamu tahu apa itu cinta? Aku sendiri tidak tahu selain namanya.
Apakah kamu pernah berpikir, kenapa cintamu membuatmu menangis? Kenapa terkadang membuatmu tertawa? Keduanya adalah perasaan dan prasangka yang lahir dari pikiran kita, atau mungkin kita telah salah melangkah hingga kemudian cinta itu sendiri memberi rambu-rambu kepada kita? Jika cintamu adalah antara engkau dengan dia, sudah pasti yang mengejawantah menjadi cinta adalah dirinya. Begitupun sebaliknya. Tuhan seperti tidak tanpa alasan menjelaskan beberapa nama-Nya yang baik, mungkin harapan-Nya adalah agar kita selalu berprasangka baik-baik saja, apa pun yang kita alami dan kita terima. Karena wanita menangis bukan tanpa alasan, sedangkan pria menangis karena sebuah kerinduan.
Mungkin kamu pernah membaca di Al-Qur'an atau media lain yang menjelaskan dialog antara roh manusia yang akan lahir, lalu Tuhan mengambil kesaksian kepadanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” kemudian ia akan menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” Saat itu engkau hampir sama ketika berkata kepada kekasihmu, “Dinda, mulai saat ini, engkaulah satu-satunya wanita yang aku cintai. Meskipun jarak dan waktu akan memisahkan kita, aku tidak akan berpaling darimu serta akan selalu mencintaimu selamanya.”
Akan tetapi, waktu tetaplah waktu, terus bergulir dan berputar. Siapapun manusia di dunia tidak ada yang merasa aman dan terjamin hidupnya tanpa ujian, sekalipun itu adalah manusia kekasih Tuhan sendiri. Saat engkau berlaku liar, membebaskan mata serta pikiran menjadi tidak terkendali, mungkin saat itulah cintamu kepadanya akan semakin hilang dari hari ke hari, karena engkau sudah menempatkan seseorang lain dalam hatimu tanpa seizinnya. Begitulah Tuhan yang Mahabijaksana, Dia ingin dikenali sebagai satu-satunya yang wajib kita sembah. Bila engkau berdusta, maka Dia akan mengirimkan pelajaran kepada kita. Tangis wanita adalah segala kata-kata yang tidak mampu lagi ia tulis menjadi surat-surat romantis untukmu, kekasih.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 7 Juli 2018.
Gabung dalam percakapan