Cerpen: Sang Pemberi Kehidupan
Di kerajaan Suwung semua rakyatnya hidup bahagia, karena sang raja tidak membuat aturan yang menyengsarakan rakyat. Tidak ada HAM, semua berjalan dengan hati nurani. Raja juga tidak membatasi rakyatnya untuk berbuat apapun, dengan kata lain kerajaan ini sangatlah bebas. Sampai-sampai jika siapapun tak punya malu boleh menyiksa hewan dan menebang pohon secara liar.
Sungai-sungai layaknya air susu. Siapa saja dapat mereguknya tanpa merebusnya terlebih dahulu. Tidak ada pabrik karena semua di olah dengan cara tradisional. Tidak ada pula bank sekalipun dengan embel-embel syariah, semua yang ada milik bersama, di kelola bersama dan untuk kepentingan bersama.
Siapapun yang berkunjung ke wilayang kerajaan Suwung pasti di buat takjub, bahkan ada beberapa warga khatulistiwa tidak ingin pulang ke tempat asalnya. Tidak hanya itu, karena masih banyak pendatang-pendatang dari berbagai bangsa dan negara yang memiliki dan merasa nyaman tinggal di kerajaan Suwung.
Banyak kerajaan yang mencoba berguru dan belajar bagaimana mengatur tatanan kerajaan Suwung. Akan tetapi tidak pernah ada yang berhasil, semua gagal total dan malah menimbulkan kekacauan serta konflik yang berkepanjangan.
Kerajaan ini juga satu-satunya yang tidak punya angkatan militer atau badan keamanan lainnya. Setiap masyarakat memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga satu sama lain. Tidak ada pula pagar dan dinding batas wilayah kerajaan. Setiap orang dapat keluar masuk dengan bebas dan tanpa paspor.
Lalu apakah aturan dasar yang paling melekat di kerajaan ini? Hanya sederhana, yaitu "Berbuatlah apapun selama itu dapat mendekatkanmu kepada Sang Pemberi Kehidupan."
- 0 -
Teks asli di publikasikan pada tanggal 26 September 2018.
Gabung dalam percakapan