Tatap Muka, Tatap Cinta
Seiring berjalannya waktu, engkau akan menyadari bahwa banyak hal yang telah engkau tinggalkan. Baik dalam pilihan yang sulit atau sebenarnya engkau dapat memilihnya sebagai bagian dari hidupmu.
Sayangnya, ketika engkau mulai menyadari ini. Setiap hal tersebut telah banyak berubah dan engkau tak dapat memutarnya atau menjadikannya lagi menjadi bagian dari hidupmu.
Inilah kenyataan hidup yang harus di terima dan di damaikan dengan segenap jiwa. Tidak ada waktu lagi untuk menyesali tentang setiap hal yang terjadi selain segera bangkit, memulihkan diri dan menatap jalan panjang ke depan serta menjalaninya, menikmatinya juga bersyukur atas sisa pilihan yang ada.
Basuhlah lukamu sendiri, karena tidak akan ada orang lain yang akan membasuhnya. Sebab faktanya engkau selalu menanggalkan tangan orang lain yang akan menjabat tanganmu. Di sana engkau selalu berpikir bahwa setiap orang selalu sama saja, tetapi di sisi lain engkau meminta kepada Tuhan bahwa Tuhan harus menolongmu.
Tidakkah hidup ini menjadi lucu?
Saat-saat abdi Tuhan mendekat, engkau lari dan menanggalkannya. Tetapi engkau selalu meminta untuk di basuh lukanya. Tidak apa, setiap kejadian akan melahirkan pembelajaran. Inilah yang dinamakan dialektika kehidupan. Berbekal pembelajaran tersebut, akhirnya engkaupun akan di hadapkan dengan pilihan yang semakin sempit.
Engkau harus memilihnya lagi atau tidak sama sekali dengan selalu memberikan makan kepada egomu sendiri. Engkau berdalih mengenai hal yang sama: semua sama saja. Padahal engkau tak pernah mencoba, atau bahkan sedikitpun untuk mengintip ke dalamnya tentang bentuk rupa yang ada. Namun, engkau sudah menilainya bahwa semua sama saja. Bukankah Tuhan akan mentertawakanmu? Ini menjadikan seolah Tuhan yang harus membelai egomu di bandingkan engkau harus menundukkan egomu di hadapan dirimu sendiri dan juga di hadapan Tuhan.
Sekali lagi, basuhlah lukamu sendiri. Mulailah membuka lembaran baru dan menuliskan namamu dengan indah. Jika engkau harus menitikan air mata, itu adalah air mata bahagia karena engkau dapat memeluk dirimu sendiri yang tengah terluka. Apabila engkau harus berdarah-darah, itu adalah kucuran perjuanganmu melewati setiap tahap masa. Bukan untuk kembali ke masa lalu, terjebak dalam penyesalan dan bising kebingungan.
Setiap makhluk berhak berbahagia. Bahagialah sebagaimana Tuhan menginginkan engkau selalu tersenyum.
Kawruh sumeh — tentang seni memandang kehidupan dengan cara senyumin aja.

Gabung dalam percakapan