Sumber

Bias Kehidupan

Gbr: Banana
Gbr: Banana

Rindu itu apa, sih, Gong?

Bukankah soal rindu, kangen, dan sejenisnya ini pernah aku tulis berkali-kali, ya?

Bahkan, rindu dan kangenku yang sebenarnya sudah mati sejak puluhan tahun lalu. Bukankah begitu, Gong?

Dengan orang yang pernah menemaniku selama lima tahun lebih saja, aku tak pernah merasakan rindu setelah perpisahan. Padahal, susah senang, tawa dan lara, dst. pernah dilalui bersama. Mulai dari minus kita bergandengan tangan untuk menuju masa depan beserta destinasi kehidupan. Meski, akhirnya alam tak mengizinkan kisah itu dilanjutkan dalam tulisan selanjutnya. Aku pernah merindu? Tidak.

Aku pernah menyesal? Tidak.
Yang mungkin barangkali kata orang kini ia jauh lebih gemerlap sorotnya. Cahayanya marak menyala menyilaukan mata. Sekali lagi, aku menyesali? Tidak. Aku merindukannya? Tidak.

Apalagi dengan orang kemarin sore. Duh.

Selumbari, selembar surat yang kukirim melalui merpati itu, kalau berceceran di jalanan lengkap semuanya. Sebenarnya adalah pesan perpisahan, Gong. Bukan karena rindu atau kangen. Lucu juga atensi, persepsi, dan tendensi orang tentang hal tersebut.


Pada setiap masalah kebakaran, setengahnya lebih adalah faktor kelalaian dan kesengajaan manusianya.

Mumpung akhir ini ramai soal kebakaran kan, Gong? Konon setelah hutan menjadi abu, tumbuhlah sawit-sawit di atasnya yang menghijau.

Terkadang, dalam politik janji-janji internal atau potong kue ini memang nyata adanya ya, Gong. Kalau bukan soal jabatan ya soal usaha, bentuk barter kemenangan di daerahnya. Meski politik itu kotor, janji ya tetaplah janji yang harus ditepati juga. Termasuk soal membalas pesan.

Entah itu pesan dari mana.

Tidak memiliki ikatan janji dan utang budi merupakan bentuk manusia yang merdeka menurutku, Gong. Dalam dunia politik mana pun, keduanya ini sangat erat untuk menjebak seseorang ke dalam pusaran panggung perpolitikan.

Tak pantas menghina dan mencela seseorang jika daripadanya engkau dihidupi atau disokong kehidupannya.

Inilah yang selalu dikatakan oleh Jokowi dalam berbagai kesempatan, bahwa beliau mengatakan kita orang timur, bangsa timur. Jadi berlakulah layaknya orang timur—ya, meski mungkin dalam setiap dapur-dapur kehidupan akan selalu terlihat kotornya juga, Gong.

Tetapi begitulah kehidupan ini.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!