Sumber

Tulisan Tentang Kenangan dan Kenyataan

Pohon di Seberang Jalan
Pohon di Seberang Jalan

Kota lumpia ini, masih saja seperti dulu, Kekasih. Panasnya masih sama. Mungkin karena lumpia itu enak saat hangat, ya? Apakah begitu?

Rasanya sudah bertahun-tahun lalu aku mandi peluh di sepanjang jalanan kota lumpia ini. Perjalanan yang panjang nan melelahkan, meski demikian kata-kata orang-orang adalah biarlah lelah menjadi berkah.

Zaman itu setiap hari harus berjibaku dengan panasnya kota lumpia, bersulang peluh dan menikmati irama raungan mesin-mesin perjuangan. Apa, sih, di dunia ini yang tidak berjuang? Setiap orang berjuang dalam jalan takdirnya masing-masing, kan, Kekasih?

Meski terkadang orang-orang ada yang menganggap bahwa takdirnya baik, karena kaya, misalnya. Kendati seperti itu, rasanya menjadi kaya juga bagian dari ujian takdir hidupnya. Susah, loh, jadi orang kaya itu, makanya Siddharta Gautama menolak tunduk pada kekayaan dan memilih jalan sunyi. Eh.

Lama sekali aku tidak menyusuri jalan Gajah, Lamper, ini. Padahal dulu, hampir setiap hari melewati jalanan Gajah. Hampir setiap minggu meniti kudaku melewati Lamper.

Dan, ya, aku juga pernah singgah di masjid ini. Akhirnya, aku tak menjadi asing di tempat ini, sebab pernah sebelumnya aku menapaki jejakku di sini. Dalam bahasaku dulu, mungkin, Tuhan menjadikan aku ke mana-mana supaya aku dapat menanggalkan jejak ibadahku di setiap bangunan-bangunan tua itu. Bukankah, katanya apapun nanti dapat menjadi saksi, Kekasih?

Biasanya, dalam setiap perjumpaan selalu aku tatap mata siapapun dengan tajam. Akhir ini, aku merubah cara lamaku tersebut. Ha? Iya.

Pembawa kultum siang itu seorang pria mendekati renta. Dari suara dan isiannya menandakan kebijaksanaan hidupnya puluhan tahun. Tadinya, ku pikir itu seorang pria muda, namun ternyata terbalik. Meski begitu, suaranya sangat halus dan baik di telinga, frekuensinya benar-benar rata, akan tetapi tepat sasaran — ya, begitulah orang tua, kan?

Andai orang-orang desaku pergi ke perjamuan siang ini. Bisa saja mereka heran sangat, Kekasih. Di kota ini, sejak beberapa tahun silam saat aku ke perjamuan, orang makan sambil berdiri layaknya dansa makanan-minuman. Coba kalau itu di desaku? Waaah, bisa menjadi topik hangat beberapa minggu.

Ya, begitulah hidup, juga, kan? Makanan tanpa garam ya tidak asin. Makanan kelebihan garam ya terlalu asin. Dst, dll.

Begitulah hidup yang selalu akan mencari topik-topik baru, karena tanpa topik kehidupan ini tak berwarna.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!