Meminum Bayang-Bayang Rembulan
Membawa cawan kosong ke tepi telaga sunyi
Meminum bayang rembulan yang dikira teh pagi
Lonceng senja bertalu mengabarkan datangnya malam
Namun ia bersikeras menyambut fajar yang telah padam
Kain sutra usang digenggamnya erat bagai pusaka
Melupakan musim dingin yang mulai menyapa raga
Di atas pasir yang kering ia menanam benih teratai
Menanti mekarnya bunga di tengah badai yang mengintai
Ditanyanya burung bangau tentang arah angin selatan
Padahal langkah kakinya melaju menuju utara yang kelam
Kitab-kitab kebijakan ditinggalkan terbuka di meja
Biarlah debu waktu menghapus petuah para bijaksana
Ketika guntur membelah langit dengan amarah
Ia hanya mendengar bisikan halus yang ramah
Mengenakan jubah tipis di tengah salju yang menderu
Tersenyum hangat memeluk angin yang dikira kekasihnya
Emas mulia dan takhta dianggapnya sekadar kerikil jalanan
Demi mengejar wewangian sekejap yang terbawa angin malam
Dunia menuntutnya berjalan lurus di atas jembatan
Ia memilih melompat ke sungai, menari bersama pusaran
Gabung dalam percakapan