Sumber

Arena Perebutan Piala

Mengintip
Mengintip
Piala.

Bertahun-tahun lamanya jelita meramal dirinya,
Dari subuh hingga larut malam,
Tak henti mengukir tinta-tinta emas di atas kertas lusuh,
Sementara pelangi sibuk kibas-kibaskan warna dispersi,
Tim-tim unggulan berjatuhan layaknya durian di musim panen,
Para bandar judi gulung tikar dengan muka bersimbah darah,
Yang tak terduga anak kemarin sore bodoh berambut ikal,
Duduk di atas kursi-kursi 'viviaipi',
Huru-hara terjadi akibat pertentangan dan barisan pendukung,
Membakar bak api unggun kala senja mulai menyapa,
Sementara intan dan permata duduk termenung di bibir pantai,
Mereka menangis hingga lautan berasa air mata kepedihan,
Ingin berkeluh pada siapa jika orang tua pun tiada?
Ingin mengumpat pada siapa jika saat ini tak ada yang menganggapnya?
Kepulan asap tebal merangkul di atas langit-langit bangsa,
Tanah menjadi gelap gulita, 
Sementara pertempuran masih terus berlangsung,
Suasana semakin mencengkam,
Karena nyala obor tak lagi mampu membuat penerangan,
Tikus-tikus menggerogoti bibir jalanan,
Kerumunan buaya tertidur pulas,
Cicak sudah tak mampu melihat keadaan,
Singa-singa meraung-raung kelaparan,
Seluruh macan tertembak lumpuh oleh panah misterius,
Tinggal menunggu suara terompet di gaungkan.


Teks asli di publikasikan pada tanggal 12 Juli 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!