Aku Dan Keakuanku Dalam Potret Kehidupan
Semilir angin terasa menembus tulang, aku tertawa, menangis, dan terdiam.
"Besok kamu yakin mau mengantar suratku?" Ucap seorang kepada seorang yang lain.
"Sayang, bukankah kamu sudah tiga kali ini bertanya kepadaku?" Jawab lawan bicaranya.
Aku mencoba memasang kupingku dalam-dalam, meskipun dialog itu terdengar samar-samar. Aku mentertawakan diriku diatas langit-langit malam dan air mataku berjatuhan mendenting bagai piano tua diujung senja.
"Iya, sayang. Maksud aku. Aku sering kurang yakin jika harus menitipkan pada orang lain."
"Tidak apalah, pada dasarnya manusia makhluk sosial, betul bukan? Sudah selayaknya kita saling membantu satu sama lain. Bukankah Tuhan merasa iba ketika melihat Adam sendirian di surga, sayang?"
"Tapi sayang, kamu selalu menolak pemberianku, aku jadi sering malu selalu merepotkanmu."
"Sudahlah, sayang. tidak perlu kau memikirkan itu, aku bukanlah kalkulasi yang harus menjumlah berapa angka dan waktu yang aku keluarkan serta aku pergunakan. Titipkanlah uangmu itu dikotak-kotak Masjid yang dari hari kehari makin keroncongan menahan lapar."
Hening dan akupun terdiam.
Kemanakah suara yang tadi mendobrak daun telingaku?
"Terima kasih, sayang"
"Kembali kasih, sayang. Pergunakanlah terima kasih itu kepada Tuhan, aku bukan siapa-siapa dan tak bisa apa-apa...semua terjadi dalam kehendak-Nya, sayang, dan aku tak lebih dari sebuah wayang."
"Iya, Alhamdulillah, aku bersyukur Tuhan mencintaiku."
"Mungkin memang benar tentang bagaimana mengukur kecintaan Tuhan pada seseorang yaitu dengan cara mengetahui bagaimana Dia menempatkan orang tersebut, sayang."
"Mungkin, sayang. Aku bahagia setiap orang disini menyayangi aku."
Dan kembali bising-bising suasana kota malam hari memenjarakanku diantara batas pedestrian yang dari tahun ke tahun semakin sempit...atau mungkin akan menghilang suatu saat nanti?
"Iya, sayang. Tapi kamu mesti hati-hati juga dan jangan terlena, sebab Tuhan Maha Guyon. Mungkin, karena kamu terlalu larut dalam kebahagiaan itu, sampai kamu lupa tentang-Nya yang membuat Dia cemburu kepadamu."
"Iya, iya, sayang...aku paham..sudahlah, mari kita pulang, hari semakin larut, aku takut kenangan kita akan berhenti disini selamanya sayang."
"Baiklah, sayang, mari."
Aku meratapi setiap kata demi kata dari pembicaraan tersebut, dimanakah aku? Kemanakah aku? Bukankah Aku ada di dalam aku sendiri? Kemana aku pergi, kemana aku berjumpa jika bukan dengan Aku juga? Apakah Aku juga yang saat ini sedang membaca aku, aku dan aku? Lalu kebingungan dengan siapakah Aku? Dan bertanya-tanya tentang Aku kepada aku? Selamat malam diri ku sendiri.
#Ingsun
#Sastrajendra
Teks asli di publikasikan pada tanggal 17 November 2018.
Gabung dalam percakapan