Sumber
Situs IHFANDICAHYO.COM sudah dialihkan ke IHFANDICA.COM. Terima kasih atas perhatiannya. _/\_

Cemburu Kepada Tuhan



Pernah ndak sih kamu cemburu sama kekasihmu? Cemburu ama kekasih itu levelnya menurutku diatas kecemburuan sosial dan ekonomi. Dan masih ada cemburu yang levelnya di atas cemburu ama kekasih, yaitu cemburu ama Tuhan. Itu menurutku, ingatkan aku ndak sekolah, ndak ngaji, jadi jangan buat patokan omonganku.

Memang bisa cemburu ama Tuhan? Aku bilang bisa. Cemburu ama Tuhan kan sah-sah saja, wong Tuhan aja Maha Besar, Maha Tahu. Apalagi? Kan kamu lebih pintar dari aku. 

Aku pernah cemburu ama Tuhan, hanya karena aku lahirnya di Jawa. Ndak lucu ya kelihatannya? Memang ndak lucu. Mungkin, waktu itu. Kalau aku punya kekuasaan buat kumpulin orang dari belahan dunia, udah aku demo Tuhan. Apalagi ditengah suhu politik yang kian memanas. Sabda-Nya udah seperti gak ada harganya. Hhmmm...(Killa hadzil ard mataqfii masahah, Lau na'isibila samahah, Wanta'ayasna bihab, Lau tadiqil ardi naskan kalla kolb) Nyanyi dulu, biar PeKa sedikit. Sambung lagi, jangan-jangan termasuk tulisan ini juga.

Cemburu, lahir, Jawa. Itu kuncinya.
Karena aku lahir di Jawa, kenapa sih Tuhan ndak bikin Qur'an itu tulisannya Jawa aja? Kenapa orang Jawa malah harus susah-susah belajar aksara Arab, bahasa Arab, aksen Arab, dan lain-lain? Jangan-jangan Tuhan sedang kerjain aku lagi...ehh, kita. Kan kamu juga orang Jawa.

Hhmmmm...jangan tanya limbad apalagi aku. Kalau tanya Limbad, jawabannya ya cuma hhmmmm. Kalau aku mah ndak tahu. Tanyakan aja ama yang berkompeten. Setelah menempuh perenungan dan menyepi. Merenung kan juga sah-sah saja. Nyepi juga ndak harus di Hindu saja. Jadinya aku malah takut sendiri kalau lihat kalimat Tuhan dengan bahasa Arab. Aku sih, ngeri aja, ahh takut, pokoknya ndak bisa dijadikan kata-kata ketakutanku. Tapi, dalam ketakutan selalu ada harapan. Seperti iman, ya kan?

Disitulah aku jadi tahu. Seandainya Qur'an itu fleksibel dalam penulisan, itu malah jadi gila. Jadi edan ndak karuan. Untung Tuhan itu Maha Suci, Maha Tahu yang akan terjadi, penuh kasih dan sayang, meskipun kadang Tuhan dalam firman-Nya selalu memperlihatkan sebuah kengerian, sebuah gambaran betapa "kasarnya" Dia. Tapi ndak, yakinlah, ndak. Kecuali aku dan kamu, ehh kita, sudah sangat lalai kepada-Nya. Tuhan itu satu, ya satu-satunya. Yang Maha Pengasih juga Penyayang. Yang Maha Pemberi Petunjuk juga.
Bagaimana kebayang sesuatu yang lain?
Tergambar kenangan yang lain?
Kenangan mantan juga ndak papa, wong Tuhan itu pinter, ndak cuma pinter, tapi mbahnya pinter. Bisa jadi ketika kamu, ehh kita ngudal-udal kembali kenangan dengan mantan. Tuhan ada disana, memperkenalkan diri-Nya, tapi ya kita aja, dahulu yang saking ndablegnya jadi ndak ngerasa, kata perempuan: Kamu itu ndak pernah peka.

Coba deh kamu pikirin aja.
Bila perlu sambil menulis Lafadz Allah memakai bahasa Arab. Kamu pikir-pikir aja sendiri. Huruf Arab itu ibarat sekumpulan kode, baik teknologi, sejarah, dan lain-lain. Nah, kalau Aksara Jawa itu pantesnya buat yang berbau-bau dengan budaya. Pernah kan kamu belajar menulis Aksara Jawa? Masih ingat ada yang namanya layar, taling-tarung, pangkon, opo maneh? Aku wes lali mergo aku dadi wong londo ning tanah jowo. Rasanya asyik kalau belajar budaya dengan bahasa dan aksara Jawa. Kamu, ehh kita harus tau kapan harus berlayar, kapan harus memangku, dll. Bukankah begitu?

Itu ajalah.
Aku minta maaf kalau bahasaku belepotan, bahasaku ndak akademisi, bahasaku sulit dipahami, bahasaku muter-muter, dan lain-lain. Selain bahasa, aku juga minta maaf kalau ada yang ndak berkenaan. Semua itu aku tulis berdasarkan kemesraanku pada Tuhan. Hanya itu.
Maturnuwun, rahayu.

Teks asli di publikasikan pada tanggal 10 Oktober 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!