Soal Rasa, Soal Kedalaman Jiwa
Dari dulu, Truk. Ibuku sering bilang. Eh, tapi bukan bilang mungkin ya, tapi ngasih contoh. Kalau di kasih sesuatu sama orang lain, beliau selalu mengatakan matur nuwun dan di ikuti dengan kata: aku ndak bisa balas, yang balas yang di Atas. Aku selalu punya pemikiran kalau aku harus jadi orang mbesuk mben biar bisa balas kebaikan orang-orang. Namun ketika aku bertemu dengan seorang guru, beliau selalu berkata bahwa semisal kita bangun rumah dan ada tetangga yang bantuin, yang bisa kita balas hanyalah waktu serta tenaganya, semisal kepada siapapun yang tiba-tiba ngasih kita uang, yang bisa kita balas hanyalah bentuk uang/ materinya saja. Masih ada hal lain yang tak terlihat, tentunya tak bisa di balas. Hal itu adalah sebut saja namanya "rasa", mungkin apa yang di pikirkan ibuku adalah yang namanya "rasa" ini, sebab meskipun beliau berkata ndak bisa balas. Tapi faktanya beliau selalu berusaha membalasnya.
Rahayu.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 7 September 2021.
Gabung dalam percakapan