Memori Hidup Yang Di Turunkan
Mungkin aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa memori itu bisa di turunkan, Truk. Mungkin ilmu masa kini menjulukinya sebagai DNA. Jadi semisal ada anak seorang Buddha, terus ketika ia besar menjadi biksu, itu bukanlah hal yang mustahil dan kebetulan. Atau ya, anak Kiai yang pinter ngaji atau memberikan tausiyah, dll, dll. Karena sebenarnya mereka sudah punya memori yang tersimpan, tinggal di panggil lagi. Sama kayak aku ndak bisa masak, Truk. Tapi begitu sampai di depan kompor, rasanya kayak familiar dengan tempat ini, seumpama masak ayam ya aku belum pernah kebalik. Seperti ayamnya dulu yang aku masukin wajan, lalu bumbu-bumbunya, dll, dll. Karena Ibuku pernah menjadi juru masak bertahun-tahun.
Dari situlah kadang aku selalu ngebelain anak orang2 yang sedang kena marah orangtuanya. Barangkali seumpama dia nakal, itu bagian dari memori yang di warisinya. Di sisi lain aku juga tak kaget misalnya ada anak kecil yang umur sekian sudah bisa A, B, C, D, dst. Barangkali perilakunya itu adalah memori yang sudah ia bawa dari kedua orangtuanya. Namun sebagai anak, jika orang tua sudah berkata "harus lebih baik dari orang tuanya; jangan sampai bernasib sama; dll." ini adalah semacam "wipe" yang seharusnya seorang anak memahami, bahwa apa yang sudah di lalui orang tua terlalu terjal, menemukan jalan baru yang lebih baik adalah tugas baru seorang anak.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 27 September 2021.

Gabung dalam percakapan