Tentang Manusia Sejati
Kata Guruku kurang lebih “...Manusia sejati adalah manusia yang bisa membedakan sifat diri sendiri dan sifat setiap manusia serta peranan dari takdir manusia. Jika jadi manusia sejati artinya bisa memilah juga bisa memilih, tetapi tidak bisa komplain. Bisa saja mengaku salah, namun lebih sering melakukan kesalahan. Orang sakti adalah orang yang sabar ng-Allah, bermakna sabar mengalah. Tak usah merasa menyesal, tak usah mengamuk, jadikan hatimu yang cair. Sejatinya manusia itu bermakna menyatu dengan Tuhan. Rasa sejati sejatinya rasa adalah pikiran yang jernih untuk berjalan menuju kepada Tuhan, meskipun keberadaan Tuhan telah di beritahukan oleh Bapak/Ibu. Ketahuilah bahwa sukma itu di bungkus oleh badan, sejatinya rupa itu ada di dalam hati yang paling dalam di mana tempat Tuhan bersemayam. Lelaku batin terletak di dalam sukma dan masuk ke dalam ruh. Ingat, jalannya sukma berada di dalam rasa yang saling berkumpul menjadi satu, bersatu dan menjadi tempat Tuhan bertajali. Badan ibaratnya wayang, kadang di uji dan kadang di puji, kadang pula di hantam-hantamkan di atas panggung. Lampunya adalah bulan dan matahari, kelirnya adalah seisi jagat raya, yang menyangganya adalah kehendak Tuhan, pelepah pisang artinya bumi tempat untuk berdirinya wayang, dalangnya adalah Tuhan semesta alam, Raja dari para raja. Berjalan dan bergerak karena di gerakkan oleh dalangnya. Jika sudah paripurna menjadi pemeran, maka wayang di masukkan kembali ke dalam kotak wayang milik dalangnya. Lelakunya untuk melihat, sebab manusia sejatinya hanyalah mayit yang berjalan di atas bumi dan di jalankan oleh Tuhannya. Wayang adalah bayang-bayang, wayang hanyalah bayang-bayang, maka manusia sejati adalah manusia yang dapat menyatu dengan Tuhan. Jangan takut kepada siapapun, takutlah dengan yang membuat apapun.”
Teks asli di publikasikan pada tanggal 25 Agustus 2018.

Gabung dalam percakapan