Kisah Dibalik Mendung
Ketika mendung menggantung
Aku tak tahu apakah itu kesedihan langit
Atau malah kesedihan tetanggaku menatap nasib hidupku
Ku bawakan ember untuk menyambutnya
Dengan bahagia dan sukacita
Lelehannya membasahi gersang tanah yang menimbulkan rasa harum
Seharum kasturi yang mengiris hidung dan pipi
Airnya jatuh dari genting rumahku, seperti jatuhnya janji yang tak di tepati
Aku masih menampung tetesannya, akan ku rangkai lagi layaknya lautan menjahit butiran tangis
Terkadang hujan dan tangis memang sama
Hujan seperti pertolongan, namun banyak hujan juga mengakibatkan bencana
Bibirnya berucap menolong namun hatinya ingin nyolong
Bedanya, banjir mampu menyapu kesedihan
Sisa airnya di makan oleh tumbuhan untuk di jadikan sari
Ambilah darahku, tampunglah di kendi-kendi milikmu
Minumlah dengan segenap keluargamu
Datang dengan senyuman dan pergilah dengan senyuman
Selagi hujan datang dengan rintik, ia juga pergi dengan rintikan
Saat kakimu sanggup menopang kerakusanmu, ambilah semuanya
Selagi langit mampu menahan airnya, uapkan seluruh lautan
Ketika tanganmu masih dapat memegang uang, rampoklah segalanya
Selagi air masih punya tempat menggantungkan tangannya
Teks asli di publikasikan pada tanggal 29 Agustus 2021.
Gabung dalam percakapan