Sumber
Situs IHFANDICAHYO.COM sudah dialihkan ke IHFANDICA.COM. Terima kasih atas perhatiannya. _/\_

Rantai Kehidupan

Menjelang rona siluet terpejam. Aku masih berdiri antara tiang-tiang pembatas gedung di salah satu sudut rumah yang tidak asing untuk diriku.

Awal tadi pembicaraan di mulai dari rasa senang membuka ruang-ruang dimensi. Kata-kata indah, pengalaman mengasyikkan berbalut rindu-rindu akan isak tangis yang tak akan pernah dia lupakan.

Pergi arungi samudera bukanlah hobiku. Aku sangat takut jika harus tenggelam bersama riak-riak yang kian menjulang tinggi. Lebih suka aku mendengarkan seduh sedan seekor prenjak kala senja mulai menyapa, kambing-kambing mengkibas-kibaskan kepalanya, dan seterusnya. Ada banyak yang akan aku tulis, tapi aku takut kamu akan ikut terjatuh dalam linangan air mataku.

Memaknainya bahwa kita adalah seorang abdi, pelayan kepada sesuatu yang absolut. Apakah tentang cita-cita untuk mendirikan balai operasi khusus kucing-kucing pedesaan, proyeksikan kemajuan-kemajuan desa dan...semua yang tidak aku tahu. Ungkapan yang cemerlang dari suara hati yang sekian hari tidak pernah melihat fajar di ufuk timur. Mungkin iya dengan fajar-fajar yang lain.

Aku berkata bahwa semua adalah ironi, kacamataku saat itu. Seperti seorang dosen yang selalu mengobarkan pelita saat tengah malam dalam goa yang bisu. Kembang-kempis, membesar dan menghilang. Tapi aku tidak menyamakan diriku dengan dosen tersebut. Dosen dan aku adalah dua jiwa yang berbeda. Berbeda. Sama? Aku tak akan membahasnya.

Seorang dokter ingin berangkat menuju rumah sakit esok pagi. Sedang perjalanan panjang yang harus ia lalui melambai-lambai ketika kuncup mawar mulai merekah. Bagaimana bisa seorang tukang tambal ban meminta ada mobil bannya pecah? Jika tidak di untung, bisa jadi seisi mobil tersebut mati sia-sia.

Hasil uang tambal ban ia bayarkan untuk sepuluk nasi di tenda nasi kucing. Dahulu aku sering berpikir. Mungkin itu turahan kucing. Mungkin makanan kucing atau mungkin...sesuatu yang tidak aku tahu juga? Biarlah menjadi kenangan dan butiran rindu.

Di belahan dunia lain, mereka meminta tak akan pernah kelaparan. Semoga semua terberkati, tercukupi. Jika seorang datang pada mereka, dengan senang hati mereka akan berikan hati dan rempela dari tubuh mereka. Tidak sama dengan di sini...rumah kita.

Tiap hari dokter tersebut menitikan air mata. Bagai hujan di saat kemarau. Pintanya untuk datang seorang pasien. Seorang tidak lebih. Agar ia dapat membayarkan asuransi mobilnya, cicilan rumahnya, dan lain-lain. Aku tak ingin berprasangka.

Seorang dosen yang akting untuk berbicara dan merayu. Seperti lelaki yang sering kau jumpai. Berbicara layaknya orator ulung di hadapanmu.

"Ketika malam mulai merangkul..."
"Saat itu kita rasakan kebersatuan..."
"Melepas tirai satu persatu..."
"Dan menutupnya kembali."

Teks asli di publikasikan pada tanggal 24 Juli 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!