Ponokawan: Wahai Domba-Domba Yang Tersesat
“Yo wes to, Truk-Truk. Kok kamu maunya semua orang seperti kamu, ini gimana coba?”
“Kan yo jadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan itu juga susah to, Gong, Reng. Kasih kebijakan di kritik — ono wae pokoke celahe. Terus harus gimana? Pernah ndak sih kalian berpikir, bahwa selama calon-calon itu masih dari partai ya selamanya — mungkin kita terjebak dan berputar-putar seperti ini saja. Wong sekarang kita milih calon-calon itu, ini berdasarkan apa? Yang kita pilih itu mung seleksi partai loh. Bisa saja di cari wedus yang bisa di dandanin supaya menarik, bisa di setir, dll sama yang punya. Terus wedus-wedus itu di calonin, kita suruh milih. Kalau jadi ya wedus-wedus itu pertama hutang sama partai — wadahnya, sama orang-orang yang udah ngasih makan, minum, dll. Jadi kalau waktu dia duduk di atas, terus balas budi. Apa salahnya sih? Manusiawi, untuk soal balas membalas. Apalagi soal hutang. Hutang yang sulit di bayar itu soal rasa, karena rasa gak bisa di beli, gak bisa di kasih harga juga. Gitu aja kok repot.”
“Wahai domba-domba yang tersesat. Heuheuheu.”
Teks asli di publikasikan pada tanggal 22 Juli 2021.
Gabung dalam percakapan