Cerita Dalam Sudut Siang
Angin yang mendesis bersama panas mentari
Menyelimuti segenap cakrawala beserta isi dan jiwanya
Membuat ingus timbul tenggelam laksana setetes air dalam embun dari kuncup bunga kenanga
Jari-jemari semakin rutin untuk mengelus dinding-dinding lesung yang semakin menua
Suhu esok hari terkadang masih dingin, sedingin ratapan orang-orang yang kehilangan harapan
Menembus sum-sum tulang sekaligus kalbu yang terdalam
Ketika sang surya menyingsing, kobaran api mulai menjilati ubun-ubun
Peluhpun malu untuk keluar, sebagaimana putri malu menutup mahkotanya dibawah terik
Tetapi tentara tetaplah berteman dengan medan pertempuran
Bukan karena tugas atau kewajiban, semata-mata takdir Tuhan bersama goresan mukanya
Setiap teman berpandangan, mereka melihat wajah Tuhan diantara keduanya
Menggigil ketakutan dan berlari menuju istana
Berkata “Wahai Raja, lindungilah kami di medan ini. Siang dan malam. Hanya kepada Engkaulah kami berlindung dan meminta pertolongan. Jika Engkau tak memberikan belas kasih, kepada raja manalagi kami harus meminta?”
Teks asli di publikasikan pada tanggal 29 Juli 2020.
Gabung dalam percakapan